Proses berdirinya Republik Rakyat China merupakan salah satu babak sejarah dalam perjalanan negara
China. Dari Tahun 1927 komunis China mulai bisa merentangkan sayapnya terhadap China yang saat itu masih berhaluan nasionalis dibawah kuomintang
yang dipimpin Sun Yat Sen dan Ciang Kai Shek. Setelah terjadinya Perang Dunia
II, wilayah China yang tadinya dikuasai oleh Jepang dijadikan lahan pertarungan
politik oleh dua partai besar di China yaitu PKC dan Kuomintang. PKC yang
mengambil wilayah di China Utara dan pada umumnya adalah desa-desa, sedangkan Kuomintang
wilayah yang umumnya kota-kota besar. Tetapi masalah ada di wilayah Manchuria.
Kedua partai tersebut berebut wilayah ini, akibatnya terjadi perang saudara
yang berakhir tahun 1949. Yang dimenangkan oleh PKC. Dengan strategi “desa
mengepung kota” wilayah seperti Manchuria, Santung, Tiensin, Peking berhasil
dikuasai komunisme. Dan Kuomintang pindah ke wilayah taiwan dan mendirikan
negara Taiwan yang berhaluan nasionalis. Tanggal 1 Oktober 1949 merupakan hari
berdirinya Republik Rakyat China. China dibawah kekuasaan komunisme, berkembang
menjadi sebuah negara yang sangat ambisius. China menginginkan menjadi negara
seperti Jerman dan Inggris. Maka untuk merealisasikan keinginannya itu Mao
Zedong membuat beberapa kebijakan, misalnya menjalankan Lompatan Jauh Kedepan
dan Revolusi Kebudayaan yang memakan ribuan korban jiwa, biaya ekonomi yang
besar, dan rusaknya kebudayaan China. Lompatan Jauh Kedepan merupakan kebijakan
yang dilakukan oleh Mao Zedong untuk menandingi ekonomi negara-negara eropa
dibidang industri. Setelah kegagalan Lompatan Jauh Kedepan itu Mao Zedong
beranggapan itu karena komunisme kurang menyebar di rakyat China, maka untuk
lebih menyebarkan komunisme Mao Zedong menjalankan Revolusi Kebudayaan.
Translate
Rabu, 11 Maret 2015
Selasa, 06 Januari 2015
Sosial dan Budaya Di Provinsi Kepulauan Riau
Kepulauan Riau, sebagai nama sebuah provinsi yang tergabung dalam wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sesuai dengan namanya, provinsi ini
terdiri atas ribuan pulau (1.062 buah), baik besar maupun kecil, berpenghuni
maupun belum. Pulau-pulau yang termasuk besar antara lain: Bintan, Karimun,
Singkep, Lingga, dan Natuna. Luas wilayahnya mencapai 250.162 kilometer
persegi. Sijori Pos (Ahad, 23 Juni 2002) malah menyebutkan lebih dari itu,
yaitu 251.810,71 kilometer persegi. Sangkin banyaknya, maka masyarakat setempat
mengibaratkannya sebagai segantang lada, sehingga muncullah istilah “bumi
segantang lada” untuk menyebut daerah Kepulauan Riau.
Wilayahnya yang relatif luas itu sebagian besar (95,79%) terdiri atas
perairan. Sedangkan, selebihnya berupa dataran yang berbukit-bukit tetapi
pantainya landai. Di sana-sini dihiasi oleh bebatuan pra-tersier yang berupa
metamor dengan sedimen yang terbatas. Jenis tanahnya pada umumnya terdiri atas:
organosol dan clay, humik, podsol, podsolik, lotosol, dan latosol yang
mengandung granit (Pemda TK. II Kepulaun Riau, 1997: 4). Iklim yang menyelimutinya
adalah tropis dengan temperatur terendah 23 derajat Celcius dan tertinggi 30
derajat Celcius. Kelembaban udaranya sekitar 88 derajat, sedangkan curah
hujannya rata-rata 2.000 milimeter per tahun.
Sosial dan Budaya Di Provinsi Jambi
Hanya ada satu bahasa daerah di Provinsi Jambi,
yaitu Bahasa Melayu, dengan beberapa dialek lokal seperti dialek Kerinci,
Bungo/Tebo, Sarolangun, Bangko, Melayu Timur (Tanjung Jabung Barat dan Tanjung
Jabung Timur), Batanghari, Jambi Seberang, Anak Dalam dan Campuran. Khusus
untuk masyarakat Kerinci, mereka mempunyai aksara tersendiri yang dikenal
dengan Aksara Encong yang dapat ditemui dan digunakan oleh sekelompok
masyarakat di sana. Provinsi ini dapat dikatakan multietnis. Sebagian besar
adalah Melayu Jambi dan selebihnya adalah berbagai suku dan etnis dari seluruh
Indonesia. Etnis dominan adalah Minang, Bugis, Jawa, Sunda, Batak, Cina, Arab,
dan India. Di provinsi ini adat istiadat Melayu sangat dominan. Adat inilah
yang mengatur segala kegiatan dan tingkah laku warga masyarakat yang
bersendikan kepada hukum islam. Adagium ”Adat bersendikan sara’, sara’
bersendikan kitabullah” atau ”Sara’ mengato adat memakai” sangat memsyarakat di
sana. Penegak syariat Islam banyak mewarnai masyarakat Jambi.
Sosial dan Budaya Di Sumatra Barat
Mayoritas penduduk Sumatera Barat merupakan suku
Minangkabau. Suku ini awalnya berasal dari dua klan utama: Koto Piliang
didirikan Datuak Katumanggungan dan Bodi Chaniago yang didirikan Datuak
Parpatiah nan Sabatang, Suka Kato Piliang memakai sistem aristokrasi yang
dikenal dengan istilah Titiak Dari Ateh (titik dari atas) ala istana
Pagaruyung, sedangkan Bodi Chaniago lebih bersifat demokratis, yang dikenal
dengan istilah Mambasuik Dari Bumi (muncul dari bumi).. Sehari-hari, masyarakat
berkomunikasi dengan Bahasa Minangkabau yang memiliki beberapa dialek, seperti
dialek Bukittinggi, dialek Pariaman, dialek Pasisir Selatan, dan dialek
Payakumbuh. Sementara itu, di daerah kepulauan Mentawai yang terletak beberapa
puluh kilometer di lepas pantai Sumatera Barat, masyarakatnya menggunakan
Bahasa Mentawai. Di Daerah Pasaman bahkan Bahasa Batak berdialek Mandailing
digunakan, biasanya oleh suku Batak Mandailing. Masyarakat Sumatera Barat,
sangat manghargai nilai-nilai adat dan budaya tradisional serta terbuka terhadap
nilai-nilai positif yang datang dari luar. Kondisi ini membawa kepada komunitas
yang sangat kondusif bagi pembangunan nasional dan cita-cita reformasi.
Meskipun suku Minangkabau mendominasi masyarakat Sumatera Barat secara
keseluruhan, kehidupan mereka relatif rukun dan damai dengan warga pendatang
lainnya yang terdiri atas berbagai etnis minoritas, seperti suku Mentawai di
Kepulauan Mentawai, suku Mandailing di Pasaman, transmigran asal Jawa di
Pasaman dan Sijunjung, kelompok etnis Cina, dan berbagai suku pendatang lainnya
yang berdiam di kota-kota di Sumatera Barat.
Sosial dan Budaya Di Papua
Sistem Sosial dan Budaya di Papua
Perspektif sosial dan
budaya merupakan proses perubahan yang diakibatkan oleh kemajuan pola pikir,
gagasan dan ide-ide manusia mengakibatkan terjadinya perbedaan dengan keadaan
sebelumnya dengan keadaan yang sedang dihadapi seperti perubahan struktur, fungsi
budaya baik dalam wujud penambahan unsur baru atau pengurangan dan penghilangan
unsur lama bisa dalam manifestasi kemunduran (regress) dan bisa juga kemajuan
(progress).
Kelompok asli di Papua terdiri atas 193 suku dengan 193 bahasa
yang masing-masing berbeda. Tribal arts yang indah dan telah terkenal di dunia
dibuat oleh suku Asmat, Ka moro, Dani dan Sentani.
Sabtu, 22 November 2014
Wawasan Nusantara Indonesia
Secara
etimologis, Wawasan Nusantara berasal dari kata Wawasan dan Nusantara.
Wawasan berasal dari kata Wawas(bahasa jawa) yang berarti
pandangan, tinjauan dan penglihatan indrawi. Jadi wawasan adalah pandangan,
tinjauan, penglihatan, tanggap indrawi. Wawasan berarti pula cara pandang dan
cara melihat. Nusantara berasal dari kata nusa dan antara.
Nusa artinya pulau atau kesatuan kepulauan. Antara artinya
menunjukkan letak antara dua unsur. Jadi Nusantara adalah kesatuan kepulauan
yang terletak antara dua benua, ian yaitu benua Asia dan Australia, dan dua
samudra, yaitu samudra Hindia dan Pasifik. Berdasarkan pengertian modern, kata
“nusantara” digunakan sebagai pengganti nama Indonesia. Sedangkan
terminologis, Wawasan menurut beberapa pendapat sebagai berikut :
a. Menurut prof.
Wan Usman, “Wawasan Nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia
mengenai diri dan tanah airnya sebagai Negara kepulauan dengan semua aspek
kehidupan yang beragam.”
b. Menurut GBHN
1998, Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia
mengenai diri dan lingkungannya, dengan dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
c. Menurut
kelompok kerja Wawasan Nusantara untuk diusulkan menjadi tap. MPR, yang dibuat
Lemhannas tahun 1999, yaitu “cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai
diri dan lingkungannya yang serba beragam dan bernilai strategis dengan
mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam
penyelenggaraan kehipan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai
tujuan nasional.”
Jumat, 24 Oktober 2014
Perkembangan Tabel Periodik Unsur
1.1
Perkembangan Sistem Periodik Unsur
1.Lavoisier (1789)
Sejarah perkembangan tabel periodik di dunia dimulai ketika Antoine
Lavoisier untuk pertama kalinya melakukan pengelompokkan unsur-unsur. Pada
1789, Lavoisier mengelompokan 33 unsur kimia. Unsur-unsur kimia dibagi menjadi
empat kelompok yaitu gas, tanah, logam, dan non logam.Pada saat selesai
melakukan Pengelompokkan tersebut, Lavoisier menemukan bahwa di dalam kelompok
unsur logam dalam tabel periodik yang dibuatnya masih memiliki kelemahan yaitu
ada banyak logam yang memiliki sifat yang berbeda walaupun sama-sama unsur
logam.Kemudian, Lavoisier juga melakukan pengelompokkan terhadap unsur gas di
dalam tabel periodiknya menjadi kalor, cahaya, nitrogen, dan hidrogen. Walaupun
Lavoisier telah berhasil membuat suatu tabel periodik namun masih banyak ditemukan
kelemahan di dalam tabel periodiknya yaitu pengelompokan masih terlalu umum.Tetapi
ada juga kelebihan dari teori Lavoisier yaitu sudah mengelompokan 33 unsur yang
ada berdasarkan sifat kimia sehingga dapat menjadi referensi bagi ilmuan-ilmuan
setelahnya.
Langganan:
Postingan (Atom)